Menyiapkan Generasi Masa Depan

Oleh Yadi Fathurohman, S.Pd.

Don Tapscott, seorang peneliti dan penulis asal Kanada menyatakan, kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital, “Kita telah memasuki fajar era jaringan kecerdasan.”

ERA jaringan kecerdasan dimaksud adalah sebuah era yang melahirkan ekonomi baru, politik baru, dan masyarakat baru. Zaman terus berubah, teknologi juga semakin cepat mengalami perubahan terus-menerus. Zaman yang akan dialami oleh anak cucu dan siswa didik kita akan berubah empat kali lipat lebih cepat daripada “sekolah-sekolah” kita saat ini.

Menurut para ahli, dua per tiga pekerjaan yang ada pada tahun 2020 saat ini belum ditemukan. Artinya, dua pertiga kemampuan yang harus dikuasai peserta didik saat ini belum ada bahan pembelajarannya.


Kenyataannya, pada saat ini begitu banyak mata pelajaran yang harus diserap, sedangkan kapasitas terbatas. Yang dikhawatirkan adalah, pelajaran yang dapat dicerna siswa lebih sedikit daripada bahan pelajaran itu sendiri.


Pendidikan formal saat ini berlangsung sampai seseorang berusia kurang lebih dua puluh tahun, hampir sepertiga rentang usia. Namun, apa yang terjadi setelah seseorang meninggalkan bangku sekolah? Itulah pertanyaan yang harus dijawab oleh pendidik yang akan mencetak generasi masa depan.


Untuk menghadapi dan menjawab tantangan ini, hendaknya guru memberikan kemampuan kepada siswa berupa:

1. Kemampuan dalam suatu disiplin ilmu. Hendaknya pendidik mengenali tipe kecerdasan yang dimiliki setiap siswanya, kemudian mengembangkan kecerdasan itu. Setelah itu, siswa didik diarahkan agar memiliki kemampuan pada satu disiplin ilmu sesuai dengan kecerdasan yang ia miliki.

2. Kemampuan menyintesiskan informasi. Pemberian tugas mata pelajaran dengan menggunakan bantuan teknologi informasi. Sebagai contoh memberikan tugas dengan mencari bahan di internet (tentunya dengan pengawasan dari guru dan orang tua siswa). Hal ini dilakukan dengan maksud agar siswa dapat mendesain dan berpikir teknis secara mandiri.


3. Kemampuan menjawab tantangan. Lapangan kerja yang ada pada masa depan mungkin akan jauh berbeda dengan masa sekarang. Oleh kerena itu, siswa harus siap menghadapi masa depan yang tidak bisa kita bayangkan dan kita bandingkan dengan saat ini.


Seperti halnya kita melatih siswa untuk mengikuti olimpiade dari cabang yang tidak kita ketahui.

Teknologi bukan alat untuk mengurangi pekerjaan, tetapi alat untuk mempermudah suatu pekerjaan. Dengan adanya teknologi, tugas dan tanggung jawab guru bukan semakin berkurang, tetapi mungkin semakin berat.


Oleh karena itu, yang harus dipersiapkan oleh para guru sebagai agen perubahan yang akan mencetak generasi-generasi masa depan adalah (1) Guru harus memiliki visi jauh ke depan, (2) Guru harus menjadi pembelajar sejati, (3) Mengikuti perkembangan dalam bidang yang diajarkannya, (4) Melakukan perbaikan terus-menerus, (5) Memotivasi diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa.


Guru sebagai jenderal di kelas hendaknya memiliki pandangan jauh ke depan yang dijabarkan dalam bentuk perencanaan. Siapkah kita menghadapi masa depan? Adakah rencana untuk menjawab tantangan masa depan?


Kita menyadari bahwa perubahan zaman akan selalu diiringi oleh hal positif dan negatif . Beberapa hal di atas semoga bermanfaat dan kita semakin bijak dalam menyikapi teknologi serta mampu menjawab problematika masa depan.***


Penulis, guru MTs. Al-Mukhtariyah Rajamandala
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=133079

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *